Rumah ramah lingkungan

Keluarga

Rumah Ramah Lingkungan: Solusi Hemat Energi dan Peduli Bumi

Rumpun Indonesia

Keluarga, Lingkungan

Secara geologis, diperkirakan Bumi masih dapat menopang kehidupan hingga 1-2 miliar tahun lagi. Namun, dengan kerusakan lingkungan yang terus-menerus terjadi, bukan tak mungkin usianya tak akan lama lagi. Maka dari itu, menjaga lingkungan di segala aspek kehidupan memiliki urgensi tinggi. Salah satunya dengan cara membuat rumah ramah lingkungan.


Apa Itu Rumah Ramah Lingkungan?

Secara sederhana, rumah ramah lingkungan adalah hunian yang dirancang dengan mempertimbangkan beberapa aspek:

  • Meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.
  • Menggunakan sumber daya secara efisien, seperti air, energi, dan bahan bangunan.
  • Mengutamakan kenyamanan penghuninya dengan tetap menjaga ekosistem sekitar.

Cara Membuat Rumah yang Eco Friendly

Di mana pun kita tinggal, di desa maupun di perkotaan, membuat hunian berwawasan lingkungan dapat dimulai sekarang. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan:

  1. Efisiensi Energi

Cadangan minyak dan gas bumi diperkirakan akan habis dalam 50–100 tahun. Memang, minyak bumi bukanlah sumber energi abadi. Maka, sudah waktunya kita menghemat energi dan menggunakan sumber energi terbarukan sejak dari rumah.

  • Jika memungkinkan, gunakan sumber energi terbarukan, seperti panel surya.
  • Memasang lampu LED hemat energi.
  • Matikan peralatan listrik bila tidak digunakan.
  • Mengoptimalkan ventilasi dan pencahayaan alami untuk mengurangi penggunaan listrik.
  • Pertimbangkan untuk mengganti peralatan rumah tangga dengan peralatan yang hemat energi
  1. Pengelolaan Air

Walaupun air bukan sumber daya alam yang akan habis total seperti minyak bumi, tetapi semakin hari ketersediaan air bersih semakin menipis. Itu sebabnya, kita perlu bijak dalam menggunakan air.

  • Gunakan air secukupnya.
  • Memanfaatkan air hujan dengan sistem penampungan. Juga sediakan area resapan air.
  • Menggunakan keran dan shower hemat air.
  • Membuat sistem pengolahan air limbah domestik untuk digunakan kembali.
  1. Material Ramah Lingkungan

Untuk keberlangsungan lingkungan hidup, maka saat membangun rumah, pertimbangkanlah hal-hal berikut:

  • Menggunakan bahan bangunan daur ulang atau yang bersumber secara lokal.
  • Memilih material seperti bambu, kayu bersertifikasi, atau bata ekologis.
  1. Pengelolaan Limbah

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, per tahun 2023 sampah rumah tangga menjadi sumber sampah terbesar dengan persentase 60.5% dari total sampah nasional. Kita dapat berkontribusi mengurangi jumlah tersebut dengan beberapa cara.

  • Pilah dan pisahkan sampah organik dari sampah anorganik.
  • Menerapkan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace).
  • Biasakan membawa kantong belanja sendiri untuk mengurangi sampah plastik.
  • Membuat kompos dari limbah organik rumah tangga.

Baca juga: Memperkenalkan Kearifan Lokal pada Anak: Warisan Berharga untuk Generasi Muda

  1. Penghijauan

Rasanya tidak lengkap bila membahas hunian eco friendly tanpa poin penghijauan. Tanaman, selain sebagai penyumbang oksigen dan “pengikat air”, dalam konteks rumah tangga juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber ketahanan pangan, bahkan sumber penghasilan.

  • Menanam pohon atau membuat taman vertikal di sekitar rumah.
  • Memanfaatkan atap untuk taman hijau atau kebun kecil. Kita bisa menanam sayur dan buah-buahan kecil seperti tomat. Bisa juga menanam tanaman untuk bumbu dapur seperti cabai, serai, bawang, lengkuas, dan sebagainya.
  • Hidroponik atau aquaponik dapat menjadi solusi penghijauan di lahan terbatas.
  1. Lokasi

Last, but not least, agar rumah yang kita miliki tak menjadi beban bagi Bumi, hindari membangun hunian di daerah-daerah berikut:

  • Kawasan hutan lindung atau konservasi. Hal ini termaktub dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 8 tahun 2021. Membangun hunian permanen di kawasan ini dapat mengganggu habitat flora dan fauna serta merusak eksosistem hutan.
  • Kawasan hutan kota. Sama halnya dengan hutan lindung, di hutan kota yang difungsikan sebagai paru-paru para penghuninya juga dilarang untuk dibangun hunian permanen.
  • Daerah resapan air. Membangun rumah di atas daerah resapan air dapat mengganggu siklus air alami, menyebabkan banjir, dan tentu saja mengurangi pasokan air bersih.
  • Kawasan lereng pegunungan. Mendirikan rumah di area lereng dapat merusak kestabilan tanah sehingga dapat menyebabkan longsor.
  • Pesisir pantai. Keberadaan rumah di pesisir atau di atas laut sendiri dapat mengancam ekosistem laut, terumbu karang, dan mangrove. Lagi pula, rumah di kawasan ini juga berbahaya terkena tsunami atau abrasi.

Manfaat bagi Penghuni dan Bumi

Lalu, apa manfaatnya bagi kita dan bagi Bumi yang kita tinggali?

  • Ekonomi: Menghemat biaya listrik dan air dalam jangka panjang.
  • Kesehatan: Meningkatkan kualitas udara di dalam rumah.
  • Lingkungan: Mengurangi emisi karbon dan limbah.
  • Estetika: Rumah dengan banyak tanaman dan desain alami terlihat lebih asri dan nyaman.

Barangkali Anda bertanya, apakah hal “sederhana” seperti ini dapat menyelematkan Bumi? Dapat memperpanjang usianya yang sudah renta ini? Jawabannya adalah, YA!

Dengan langkah-langkah kecil, kita dapat menciptakan hunian yang nyaman sekaligus menjaga bumi untuk generasi mendatang. Mulailah sekarang, karena setiap tindakan kecil memiliki dampak besar. (eL)

Artikel Menarik Lainnya

Perempuan adat

Kearifan Lokal dan Lingkungan: Belajar dari Tradisi Perempuan Adat

Bambu ramah lingkungan

Manfaat Bambu bagi Keberlangsungan Lingkungan Hidup

Mendukung peran perempuan

Dibutuhkan Kerja Sama Satu Kampung Agar Perempuan Bisa Berkeluarga, Bekerja, dan Berkarya

Leave a Comment