Bullying di sekolah masih menjadi masalah besar yang sering terjadi di lingkungan pendidikan, baik di tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Dampaknya sangat merugikan, baik bagi korban maupun pelaku, dan dapat memengaruhi perkembangan mental dan emosional anak.
Padahal, institusi pendidikan seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak-anak untuk belajar dalam menyongsong masa depan. Sayang, kenyataan tidak pernah seindah harapan. Dalam menghadapi masalah ini, peran orang tua sangat penting. Orang tua tidak hanya menjadi pendukung bagi anak-anak mereka, tetapi juga bisa berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung di sekolah.
Apa itu Bullying?
Bullying adalah tindakan agresif yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang berulang kali terhadap individu yang lebih lemah, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis. Contoh-contoh bullying di sekolah bisa berupa penghinaan, perundungan fisik, penyebaran gosip, atau pengucilan.
Bullying sering kali terjadi di luar pengawasan orang dewasa, dalam hal ini guru dan orang tua. Tak jarang korban mendapat ancaman dari pelaku, membuat korban merasa terisolasi dan tidak bisa melaporkan kejadian tersebut.
Dampak Bullying bagi Korban
Dampak dari bullying tidak hanya terjadi dalam jangka pendek, tetapi dapat berlanjut hingga dewasa. Beberapa dampak yang sering dialami oleh korban antara lain:
- Gangguan Emosional: Korban bullying cenderung mengalami kecemasan, depresi, bahkan rasa takut untuk pergi ke sekolah.
- Penurunan Prestasi Akademik: Perasaan tertekan dapat mengganggu konsentrasi belajar, yang berujung pada penurunan prestasi akademik.
- Masalah Sosial: Korban bullying mungkin merasa kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebayanya dan merasa terasingkan.
- Gangguan Mental: Dalam beberapa kasus, dampak bullying bisa mengarah pada gangguan mental jangka panjang, seperti PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).
- Meninggal: Ya, bullying dapat menyebabkan anak kita kehilangan nyawa, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Cara Mengatasi Bullying di Sekolah
Orang tua memegang peranan penting dalam mengurangi atau bahkan mencegah terjadinya perundungan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung dan melindungi anak-anak yang menjadi korban:
- Mengenali Tanda-tanda Bullying
- Orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak. Beberapa tanda yang bisa menunjukkan anak menjadi korban bullying antara lain perubahan mood, enggan pergi ke sekolah, luka-luka yang tidak bisa dijelaskan, atau penurunan prestasi akademik. Jika orang tua menangkap tanda-tanda ini, penting untuk segera berbicara dengan anak secara terbuka.
- Membina Komunikasi yang Terbuka
- Anak-anak perlu merasa nyaman berbicara dengan orang tua mereka tentang apa yang terjadi di sekolah. Orang tua harus menciptakan lingkungan yang mendukung dengan cara mendengarkan tanpa menghakimi. Dengan komunikasi yang baik, anak lebih berani untuk menceritakan masalah yang dihadapi.
- Mendukung Anak dalam Menghadapi Bullying
- Jika anak menjadi korban bullying, orang tua perlu mendukungnya dengan memberi semangat dan memberikan solusi. Bimbing anak untuk melaporkan kejadian bullying kepada pihak sekolah atau orang dewasa yang dipercaya. Selain itu, penting juga untuk mendampingi anak jika perlu berbicara dengan guru atau kepala sekolah tentang kejadian tersebut.
- Berperan Aktif di Sekolah
- Orang tua juga dapat bekerja sama dengan sekolah untuk menciptakan lingkungan yang bebas bullying. Ini bisa dilakukan dengan berpartisipasi dalam kegiatan yang mendukung kebijakan anti-bullying, seperti seminar atau workshop tentang bullying, atau menjadi bagian dari komite sekolah yang memantau keamanan dan kesejahteraan siswa.
- Mengambil Tindakan Hukum
- Langkah ini barangkali terdengar agak berlebihan, tetapi tetap perlu dipertimbangkan. Kenakalan anak-anak biasa dan tindak kriminal kerap tipis batasannya sehingga para orang tua tidak menyadari ini. Oleh sebab itu, apabila bullying sudah mengarah pada melukai fisik dan berbahaya, laporkan kepada pihak berwajib.
- Konsultasi ke Psikolog atau Psikiater
- Bullying dapat menyebabkan trauma jangka panjang yang memengaruhi kesehatan mental anak. Konsultasikan kepada psikolog atau psikiater agar trauma mereka dapat ditangani dengan benar. Hal ini juga bertujuan agar trauma tidak menjadi beban emosional ketika mereka dewasa.
Baca juga: Mengasah Kreativitas Anak melalui Aktivitas Seni
Mencegah Anak Menjadi Pelaku
Selain memastikan bahwa anak tidak menjadi korban, orang tua juga perlu memastikan bahwa anak tidak menjadi pelaku. Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua apabila anak kita menjadi pelaku bullying di sekolah?
- Meminta Maaf pada Korban dan Orang Tuanya
- Permintaan maaf memang tidak akan begitu saja menyembuhkan trauma yang dialami korban. Tetapi ini langkah yang bijaksana untuk mengurangi efek jangka panjangnya. Maka, ajaklah anak untuk meminta maaf pada korban dan orang tuanya.
- Tidak Memaklumi Apalagi Membiarkan
- “Yah, namanya juga anak-anak,” adalah komentar yang kerap dilontarkan orang tua saat menghadapi kenakalan anak-anak. Komentar yang akan jadi bumerang bagi pelaku. Bullying bukanlah perilaku yang dapat dimaklumi apalagi dibiarkan. Sebab jika dibiarkan, perilaku agresif akan terus terbawa hingga anak dewasa yang suatu saat akan membuatnya terlibat dalam masalah yang lebih besar.
- Cari Tahu Masalah di Baliknya
- Anak-anak tidak terlahir dan begitu saja melakukan kekerasan terhadap teman-temannya, selalu ada motivasi yang barangkali tidak dapat mereka katakan. Jadi, ajak anak untuk berbicara, tanyakan motivasi mereka. Sebab kadang, perilaku agresif adalah salah satu “metode” anak untuk menarik perhatian orang tuanya. Solusi dapat dicari bila kita tahu masalahnya.
- Mengajarkan Empati dan Toleransi
- Orang tua dapat membantu anak memahami pentingnya empati dan menghargai perbedaan. Mengajarkan anak untuk tidak menyakiti orang lain dan memahami perasaan orang lain adalah langkah awal untuk mencegah bullying.
- Ajari Anak untuk Mengakui Kesalahan dan Tidak Mengulanginya
- Apa pun alasannya, merundung dan melakukan kekerasan pada anak lain tetaplah salah. Bimbing anak untuk menyadari dan mengakui kesalahannya, lalu pastikan bahwa mereka tidak mengulanginya.
- Meminta Bantuan Profesional
- Perilaku agresif yang terjadi terus-menerus dan kecenderungan anak untuk melakukan tindak kekerasan menandakan bahwa ada masalah yang lebih serius. Mintalah bantuan profesional agar perilakunya dapat ditangani dan tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Bullying di sekolah adalah masalah serius yang perlu mendapat perhatian lebih dari orang tua, guru, dan masyarakat. Peran orang tua dalam mendeteksi, mencegah, dan mendukung anak yang menjadi korban sangat penting. Peran orang tua untuk mencegah agar anak tidak menjadi pelaku juga tak kalah pentingnya.
Bersama-sama, kita dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman. Bersama-sama, kita dapat mengatasi masalah ini agar tak lagi terjadi di kemudian hari. Bersama-sama, kita dapat mencegah ada anak yang menjadi korban, sebab satu korban saja sudah terlalu banyak! (eL)
