Seni partisipatif

Seni dan Budaya

Menggugah Kesadaran Kolektif lewat Seni Partisipatif

“Kudu paheuyeuk-heuyeuk leungeun, paantay-antay panangan,” begitu kata peribahasa Sunda. Bermakna pentingnya saling bekerja sama serta menjaga persatuan dan kesatuan. Peribahasa dengan makna mendalam ini dapat diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam berkesenian.

Keindahan seni, apa pun jenisnya, kerap diinterpretasikan secara personal. Tergantung pada wawasan dan pengalaman penikmatnya. Begitu juga dengan proses pembuatan karya seni itu sendiri, dibuat oleh masing-masing seniman. Sebagai contoh, sebuah lukisan dibuat oleh seorang pelukis.

Namun, bagaimana apabila sebuah karya seni dibuat dan diinterpretasikan secara bersama-sama? Apakah bisa? Tentu saja. Di sinilah seni partisipatif mengambil peranan.


Apa Itu Seni Partisipatif?

Dalam buku Artificial Hells: Participatory Art and the Politics of Spectatorship yang ditulis oleh Claire Bishop, seni partisipatif dijelaskan sebagai bentuk seni ketika audiens atau partisipan terlibat secara langsung dalam proses penciptaan karya seni. Alih-alih menjadi penonton pasif yang hanya mengamati, mereka berperan aktif, baik dalam perencanaan, eksekusi, maupun interpretasi karya seni tersebut.

Bishop juga menyoroti bagaimana seni partisipatif bisa melibatkan berbagai lapisan masyarakat, dengan tujuan untuk mendobrak batas antara seniman dan penonton, serta menciptakan pengalaman kolektif.

Namun, dalam buku ini, Bishop mengkritisi beberapa aspek dari seni partisipatif, terutama terkait dengan kontrol dan otoritas seniman atas karya seni yang dihasilkan. Ia mempertanyakan sejauh mana partisipasi sejati dapat tercipta, dan apakah seni partisipatif selalu membawa perubahan positif atau justru dapat digunakan untuk tujuan komersial atau eksploitatif.

Baca juga: Tari Ketuk Tilu: Kesenian Sunda yang Sarat Nilai Budaya


Seni Partisipatif dan Kesadaran Kolektif

Seni partisipatif bukan sekadar aktivitas kreatif, tetapi juga alat untuk mempersatukan orang-orang dari berbagai latar belakang. Ketika individu berpartisipasi, mereka saling berbagi pengalaman, pandangan, dan emosi. Proses ini mampu membuka ruang dialog dan menciptakan rasa saling pengertian yang mendalam sehingga menggugah kesadaran kolektif.

Kolaborasi dalam berkesenian memiliki banyak manfaat dalam menggugah kesadaran kolektif, antara lain:

  1. Meningkatkan Keterlibatan Sosial
    Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, dapat menciptakan rasa kebersamaan dan memperkuat ikatan sosial antarindividu.
  2. Membuka Dialog tentang Isu Sosial
    Seni ini memberikan ruang aman bagi masyarakat untuk mendiskusikan isu-isu penting, seperti kesetaraan gender, lingkungan, atau keadilan, tanpa merasa dihakimi.
  3. Memperkuat Empati dan Solidaritas
    Proses kolaborasi dalam seni partisipatif membantu individu memahami perspektif orang lain, sehingga meningkatkan empati dan rasa solidaritas.
  4. Memberikan Representasi Suara Kolektif
    Seni partisipatif memungkinkan setiap individu menyampaikan gagasan dan aspirasi mereka, sehingga karya seni menjadi representasi nilai dan kepentingan bersama.
  5. Memotivasi Aksi Sosial
    Melalui pengalaman kreatif yang menyentuh emosi, bentuk seni ini dapat menginspirasi masyarakat untuk mengambil tindakan nyata demi perubahan positif.

Menggugah Kesadaran Kolektif melalui Seni Tari

Seni tari sendiri dapat dikategorikan berdasarkan partisipasi dan tujuan pementasannya, yaitu tari partisipatif dan tari teater. Tari partisipatif adalah jenis tari yang bersifat sosial, dilakukan secara berkelompok atau dalam konteks merakyat, seperti tari rakyat atau tari olahraga. Jenis ini tidak memiliki aturan yang kaku atau makna tertentu, sehingga penari bebas berekspresi tanpa beban. Sebaliknya, tari teater dirancang untuk dipentaskan berdasarkan tema cerita tertentu, sering kali bertujuan sebagai hiburan. Contohnya meliputi tarian modern, kreasi baru, atau bentuk tari teatrikal lainnya yang menggabungkan seni gerak dan drama untuk menyampaikan pesan kepada penonton.

Dalam konteks seni partisipatif, tari partisipatif memiliki peran penting karena mampu melibatkan masyarakat secara aktif. Contohnya adalah acara “Menari Bersama Ketuk Tiluan” yang diselenggarakan oleh Komunitas Rumpun Indonesia. Kegiatan ini mengundang berbagai komunitas untuk berpartisipasi dalam tarian tradisional Sunda, ketuk tilu, guna mempromosikan nilai-nilai kebersamaan, inklusivitas, dan pelestarian budaya lokal. Acara ini tidak hanya melibatkan masyarakat sebagai penonton tetapi juga sebagai bagian aktif dari ekspresi budaya, menggugah kesadaran akan pentingnya warisan tradisional dalam kehidupan sehari-hari.


Menggugah Kesadaran Kolektif melalui Seni Rupa

Seni rupa memiliki kekuatan untuk menyentuh hati dan pikiran manusia, menjadikannya media yang efektif untuk menggugah kesadaran kolektif. Dengan bahasa visual yang universal, seni rupa mampu menyampaikan pesan-pesan mendalam yang menginspirasi perubahan sosial dan menciptakan rasa kebersamaan.

Melalui instalasi, mural, lukisan, dan media visual lainnya, seniman dapat menghadirkan isu-isu penting ke ruang publik dan memicu dialog bersama. Seni rupa tidak hanya menjadi refleksi masyarakat, tetapi juga katalis untuk membangun kesadaran kolektif yang lebih kuat.

Salah satu contoh konkret seni rupa sebagai seni partisipatif adalah program Kreativitas dalam Partisipasi untuk Solo Kota Inklusi (KREASI) yang digagas oleh konsorsium Kota Kita, Gerkatin Solo, dan Ruang Atas. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Kota Solo akan pentingnya inklusivitas, khususnya bagi penyandang disabilitas Tuli. Melalui seni visual berupa mural, program KREASI tidak hanya menjadi medium advokasi tetapi juga sarana kolaborasi antara komunitas Tuli, seniman, dan masyarakat umum.

Pelaksanaan program ini mencakup berbagai tahapan partisipatif, seperti penggalian aspirasi menggunakan metode Photovoice, penyusunan sketsa bersama (co-design), hingga pembuatan mural secara kolaboratif. Salah satu mural yang dihasilkan, dengan tema “Pentingnya Penggunaan BISINDO di Ruang Publik”, menggambarkan harapan akan lingkungan yang lebih akomodatif dan inklusif bagi penyandang disabilitas. Karya ini tidak hanya menyuarakan kebutuhan komunitas Tuli tetapi juga melibatkan masyarakat dalam proses kreatif, sehingga menciptakan ruang dialog dan pemahaman bersama tentang pentingnya kesetaraan.


Dengan melibatkan berbagai elemen komunitas secara aktif, seni ini tidak hanya menjadi media ekspresi tetapi juga alat advokasi dan pemersatu yang melampaui sekat-sekat sosial. Upaya seperti program KREASI di Solo dan acara “Menari Bersama Ketuk Tilu” menunjukkan bahwa kolaborasi seni mampu menciptakan dampak nyata dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif, harmonis, dan sadar budaya. Mengajarkan bahwa bersama-sama, kita dapat menciptakan perubahan dan menggugah kesadaran. (eL)

Seni Rupa, Seni Tari

Artikel Menarik Lainnya

Tari ketuk tilu

Tari Ketuk Tilu: Kesenian Sunda yang Sarat Nilai Budaya

Manfaat menggambar untuk anak-anak

Mengasah Imajinasi dan Emosi: Manfaat Menggambar untuk Anak-Anak

Manfaat menari

Manfaat Menari untuk Kesehatan Jiwa dan Raga

Leave a Comment